BPK Maluku Dorong Benteng New Victoria Jadi Pusat Budaya di Ambon

SNI.ID, AMBON : Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku mendorong Benteng New Victoria di Kota Ambon dikembangkan menjadi ruang budaya dan pariwisata. Pemanfaatan kawasan tersebut tetap harus memperhatikan nilai sejarah dan prinsip perlindungan cagar budaya.

Kepala BPK Maluku Dody Wiranto mengatakan Benteng New Victoria memiliki posisi penting dalam sejarah Kota Ambon. Benteng tersebut menjadi salah satu peninggalan yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah Ambon.

“Benteng New Victoria itu adalah salah satu pintu awal sejarah Kota Ambon. Kalau kita berbicara tentang usia Kota Ambon yang mencapai 451 tahun, sejarah benteng ini tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang tersebut,” kata Dody kepada media, di kantor Balai Kebudayaan Provinsi Maluku, Kamis (3/9/26).

Ia menjelaskan Benteng New Victoria dibangun oleh Portugis pada 1575 dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional. Menurut Dody, status tersebut membuat upaya pelestarian membutuhkan kerja sama berbagai pihak.

“Kita berharap kawasan ini dapat semakin dimaksimalkan sebagai pusat budaya di Maluku, khususnya Kota Ambon. Cagar budaya merupakan aset bersama,” Jelasnya.

Ingin Jadi Ruang Publik

Dody berharap kawasan sekitar Benteng New Victoria dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang menghadirkan berbagai kegiatan.

“Mulai dari pertunjukan musik, kegiatan komunitas, kuliner hingga aktivitas UMKM diharapkan dapat hadir dengan tetap memperhatikan ketentuan perlindungan cagar budaya. Pengembangan tersebut dinilai dapat mendukung sektor pariwisata Kota Ambon sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal sejarah dan budaya daerah, “harapnya.

Namun, Dody mengingatkan pengembangan kawasan harus dilakukan secara hati-hati. Saat ini kawasan Benteng New Victoria berada di lingkungan yang dikelola TNI.

“Kita tidak boleh berbenturan dengan kepentingan lain. Ada aturan dan hal-hal penting yang harus tetap kita lindungi. Karena itu, kita akan melihat dan mengatur dengan baik,” ingatnya.

Baca Juga:  iklan paskah

Ada Bagian Benteng Rusak

Dody mengungkapkan hasil studi dan kajian teknis menemukan sejumlah bagian Benteng New Victoria mengalami kerusakan. Beberapa bagian bangunan disebut mengalami patah. Bahkan terdapat struktur yang dinilai berpotensi runtuh. BPK Maluku pun menggandeng tenaga ahli, termasuk arsitek dan ahli sipil, untuk menentukan langkah penanganan.

“Kita menggandeng para ahli, termasuk arsitek dan sipil, untuk melihat bagaimana upaya pelestarian dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah bangunan tersebut,” Ungkapnya.

Selain memperbaiki kondisi fisik, BPK Maluku juga ingin meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap benteng tersebut.

Dody menyebut masyarakat perlu melihat Benteng New Victoria sebagai bagian dari sejarah dan identitas Kota Ambon yang harus dijaga bersama.

Dia juga mengapresiasi TNI yang selama ini ikut membantu menjaga dan membersihkan kawasan benteng.

Bakal Gunakan Teknologi Digital

BPK Maluku juga menyiapkan pemanfaatan teknologi untuk mendokumentasikan kondisi Benteng New Victoria.

Salah satunya melalui fotogrametri. Teknologi tersebut memungkinkan kondisi bangunan direkam dari berbagai sisi dan disimpan dalam bentuk dokumentasi digital.

Dokumentasi itu nantinya dapat dimanfaatkan melalui website maupun media sosial.

“Kita bisa melihat perubahan kondisi bangunan dari waktu ke waktu. Dulu bentuknya seperti apa dan kemudian mengalami perubahan seperti apa,” kata Dody.

Sebelumnya, BPK Maluku juga telah melakukan pemetaan dan dokumentasi fisik Benteng New Victoria menggunakan teknologi tiga dimensi dan 3D laser scanner.

Festival Digelar 7 September

Bersamaan dengan upaya pelestarian tersebut, BPK Maluku akan menggelar Festival Benteng New Victoria pada 7 September 2026.

Festival tersebut mengusung tema “Budaya dalam Harmoni”. Tema itu dikaitkan dengan identitas Kota Ambon sebagai Kota Musik.

“Budaya dan musik kita rangkai dalam satu harmoni. Kali ini kita mencoba merangkainya dengan sektor pariwisata, sehingga kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang budaya, tetapi juga bagaimana budaya dapat mendukung pariwisata dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  Peringati Hari Anak Nasional, OJK Maluku Ajak Pelajar Cerdas Finansial dan Waspada Judol

Dody mengatakan kegiatan tersebut tidak ingin berhenti sebagai agenda seremonial. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat dampaknya terhadap masyarakat, terutama dari sisi ekonomi dan UMKM.

Berdasarkan evaluasi kegiatan sebelumnya, ada UMKM yang mampu mencatat omzet sekitar Rp 10 juta per hari selama kegiatan berlangsung.

Tahun ini sekitar 30 UMKM direncanakan ikut terlibat di dalam area kegiatan.

“Kita ingin mengetahui berapa banyak masyarakat yang terdampak, bagaimana perputaran uang selama kegiatan berlangsung, serta berapa besar manfaat yang diterima para pelaku UMKM,” katanya.

Target Kegiatan Makin Besar

Dody berharap kegiatan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan skala yang semakin besar.

Jika sebelumnya berlangsung selama dua hari, ke depan kegiatan diharapkan dapat dikembangkan menjadi tiga hari dengan jumlah peserta yang lebih banyak.

Kolaborasi juga akan diperluas dengan melibatkan pemerintah daerah, kementerian terkait hingga para raja dan pemangku adat di Maluku.

“Kita bisa melibatkan Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, maupun Kementerian Koperasi. Bahkan para raja atau pemangku adat di Maluku juga dapat dilibatkan,” ujarnya.

Dody berharap dukungan media dapat membantu memperkenalkan potensi sejarah dan budaya Maluku ke tingkat nasional.

“Kolaborasi dengan teman-teman media sangat penting untuk mengangkat potensi sejarah dan budaya Maluku agar semakin dikenal,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *