SNI.ID, SAPARUA : Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saparua untuk pertama kalinya menyalurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok kategori B3, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Penyaluran ini dilakukan setelah sebelumnya MBG didistribusikan pada jenjang PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA di wilayah Kecamatan Saparua.
Kepala SPPG Saparua, Clif Paunno, mengatakan bahwa pada tahap awal sebanyak 160 penerima manfaat kelompok B3 telah menerima bantuan MBG. Pendataan sementara mencakup wilayah Negeri Booi dan Paperu, dan akan terus diperluas ke negeri-negeri lainnya di Kecamatan Saparua.
“Sebanyak 160 penerima MBG kategori B3 telah menerima bantuan. Data ini baru mencakup Negeri Booi dan Paperu, dan tahap berikutnya kami akan berkoordinasi dengan negeri lain,” ujar Paunno, Rabu (15/01/2026).
Menurutnya, Program MBG merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting, perbaikan gizi keluarga, serta peningkatan kualitas generasi masa depan. Dari total target sekitar 700 penerima manfaat kelompok B3 yang telah ditetapkan, penyaluran perdana ini menjadi langkah awal untuk memperluas cakupan layanan pemenuhan gizi di wilayah tersebut.
Dalam pelaksanaan penyaluran, SPPG Saparua bekerja sama dengan para kader posyandu untuk menentukan titik-titik pengambilan MBG yang mudah dijangkau oleh penerima manfaat. Selain itu, SPPG juga menerapkan mekanisme penyaluran secara langsung ke rumah penerima bagi bumil, busui, dan balita yang berhalangan hadir atau memiliki keterbatasan mobilitas.
“Pada prinsipnya mekanisme penyaluran sama seperti kelompok penerima lainnya, namun bagi bumil, busui, atau balita yang tidak bisa mengambil langsung, MBG akan kami antar secara door to door,” jelasnya.
Paunno menegaskan bahwa penentuan sasaran penerima manfaat kelompok B3 tidak dilakukan secara kaku, melainkan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Prioritas utama diberikan kepada bumil, busui, dan balita yang mengalami stunting atau berisiko stunting, dengan tetap mempertimbangkan keberadaan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang juga tengah berjalan.
“Untuk kelompok B3, kami lebih mengutamakan mereka yang benar-benar membutuhkan secara kesehatan. Namun kami juga memperhatikan agar program MBG dan PMT tidak tumpang tindih, melainkan saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses pendataan penerima manfaat dilakukan secara bertahap melalui komunikasi dan koordinasi yang intensif dengan berbagai pihak terkait. Dengan pola koordinasi yang terstruktur dan kolaboratif, SPPG Saparua berharap penyaluran MBG bagi kelompok bumil, busui, dan balita dapat berjalan optimal, tepat sasaran, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan ibu dan anak.
“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat program pemenuhan gizi sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” tutup Paunno. (*)










