Widi Pangestu Sugiono asal Yogyakarta, Foto : Febby Sahupala
SNI.ID, JAKARTA : Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan, perupa kontemporer Widi Pangestu Sugiono justru memilih jalan yang sunyi yakni kembali pada material paling sederhana kertas.
Namun bagi seniman yang menetap di Yogyakarta ini, kertas bukan sekadar medium. Ia adalah ruang pertemuan antara tangan manusia, alam, dan waktu.
Dalam ajang Art Jakarta Paper 2026, Widi menampilkan sekitar 25 karya baru yang lahir dari proses residensi seni di India. Karya-karya tersebut memadukan praktik pembuatan kertas handmade dengan teknik pewarnaan alami indigo, sebuah eksperimen yang ia jalani selama residensi dari Oktober hingga Januari.

Salah satu karya dari koleksi Widi Pangestu Sugiono yang dipamerkan dalam Art Jakarta Papers di Pondok Indah Mall 3, Jakarta. Foto: Febby Sahupala
Bagi Widi, perjalanan ke India bukan sekadar perjalanan artistik, tetapi juga perjalanan untuk kembali memahami asal-usul material.
“Di India, indigo punya sejarah yang sangat panjang. Ia bukan hanya soal warna, tetapi bagian dari tradisi, kerja, dan kebudayaan masyarakatnya,” kata Widi, kepada media, Minggu (8/2/26).
Di negara itu, ia belajar langsung tentang indigo dari sejumlah ahli yang dihadirkan dalam program residensi di Hampi Art Labs. Salah satunya Aboubakar Fofana, seniman dan ahli indigo asal Mali, Afrika, serta kolektif Buaisou dari Jepang yang dikenal sebagai petani sekaligus master indigo.
Dari mereka, Widi tidak hanya mempelajari teknik, tetapi juga filosofi tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam melalui material.
Pengalaman itu kemudian ia bawa ke dalam praktik artistiknya yang telah ia tekuni sejak 2017 yaitu membuat kertas dengan tangan sendiri.
Perjalanan tersebut bermula dari pertanyaan sederhana ketika ia masih berfokus pada seni lukis. Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini saat itu menggunakan arang dan cat untuk melukis di atas kertas.
Dalam sebuah diskusi dengan rekan-rekan seniman, muncul pertanyaan yang justru mengubah arah pencarian artistiknya mengapa kertas?
Pertanyaan itu mendorong Widi untuk menelusuri lebih jauh medium yang selama ini ia gunakan. Ia mulai mempelajari bagaimana kertas dibuat, dari serat tanaman hingga menjadi lembaran.
Sejak saat itu, kertas tidak lagi sekadar permukaan untuk melukis, tetapi berubah menjadi bahan utama yang ia bentuk menjadi karya tiga dimensi.
Dalam karya-karyanya, Widi menggunakan berbagai jenis kertas berkualitas arsip, termasuk abaka, tanaman pisang-pisangan yang dikenal kuat sebagai bahan kertas. Serat tersebut kemudian dipadukan dengan mulberry, yang di Indonesia dikenal sebagai daluang bahan tradisional untuk membuat kertas.
Menariknya, sebagian bahan tersebut ia peroleh dengan bekerja sama langsung dengan petani dan perajin di Indonesia.
Beberapa komunitas budaya bahkan masih menanam pohon daluang dan membuat kertas dengan cara tradisional. Dengan mereka, Widi menjalin kerja sama untuk mendapatkan bahan sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal.
Di tangan Widi, kertas tidak lagi datar. Ia dibentuk, dicetak, dan dilapisi hingga menjadi struktur tiga dimensi yang menghadirkan tekstur halus sekaligus rapuh.
Kerja artistik itu menuntut kedekatan langsung dengan material. Seluruh proses, dari pembuatan kertas hingga pembentukan karya, dilakukan dengan tangan. Proses tersebut juga bergantung pada alam.
Sinar matahari dibutuhkan untuk mengeringkan kertas. Kelembapan udara memengaruhi hasilnya. Bahkan perubahan cuaca dapat menentukan keberhasilan proses.
“Karena bersentuhan langsung dengan material dari awal sampai akhir, rasa memiliki terhadap karya itu tumbuh seiring prosesnya,” kata Widi.
Di tengah kehidupan modern yang semakin menjauh dari pengalaman fisik, Widi melihat praktik manual justru memiliki makna baru.
Menurutnya, ketika manusia semakin jauh dari hal-hal yang bersifat taktil yang dapat disentuh langsung akan muncul kerinduan untuk kembali merasakan hubungan itu.
Melalui karya-karya kertas yang menggunakan material alami, ia ingin menghadirkan kembali kesadaran tentang relasi manusia dengan alam.
Relasi itu, menurutnya, perlahan bergeser seiring perkembangan zaman.
Selain menghadirkan karya, Widi juga membawa pesan lain yakni mengubah cara pandang terhadap kertas.
Selama ini kertas sering dianggap rapuh dan tidak tahan lama sebagai medium karya seni. Padahal sejarah menunjukkan sebaliknya.
Banyak arsip dokumen dan karya seni berbahan kertas yang mampu bertahan hingga ratusan tahun.
“Kertas sebenarnya punya banyak kemungkinan material. Ia bisa sangat kuat dan tahan lama,” ujarnya.
Perjalanan artistik Widi telah membawanya ke berbagai panggung seni. Ia pernah menjadi finalis UOB Painting of the Year ke-39 pada 2019, serta menggelar pameran tunggal seperti “Everything In Between” di Indonesia Contemporary Art Network (2017) dan “Making Sense of Sense-Making” di Ace House (2021).
Karyanya juga tampil dalam pameran internasional seperti “Beyond Painting” di Mizuma Gallery, Singapura (2022) dan “Formless” di Semarang Gallery (2022).
Namun di balik perjalanan itu, Widi tetap kembali pada sesuatu yang sederhana yaitu selembar kertas.
Di tangannya, kertas menjadi lebih dari sekadar benda. Ia berubah menjadi cerita tentang alam, waktu, dan hubungan manusia dengan dunia yang terus berubah.










