SNI.ID, AMBON – Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Administratif Mahu, Christina M Lawalata, mengungkapkan program ketahanan pangan desa yang didanai melalui Dana Desa 2024 di Negeri Mahu, Pulau Saparua, berjalan sukses.
Christina menjelaskan, melalui kebijakan pemerintah pusat, seluruh desa di Indonesia diwajibkan menjalankan program ketahanan pangan desa dengan konsep satu desa satu produk.
“Pada saat itu Negeri Mahu memilih produk telur, yaitu melalui usaha ayam petelur,” kata Christina.
Dalam program tersebut, Pemerintah Negeri Mahu mengembangkan sekitar 400 ekor ayam petelur dan mulai berproduksi pada bulan Februari.
Sejak produksi berjalan dari Februari hingga memasuki Mei, telur yang dihasilkan masih dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Negeri Mahu serta beberapa negeri lain di Pulau Saparua.
Bahkan, sejumlah toko di wilayah Saparua juga sudah mulai mengambil telur dari Negeri Mahu untuk dijual kembali.
“Telur masih didistribusikan dan dijual kepada masyarakat lokal, tetapi sudah ada beberapa toko yang ikut mengambil,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Negeri Mahu juga baru-baru ini mendapat peluang kerja sama dengan pihak dapur atau SPPG Ibu Momi. Kerja sama tersebut membuka peluang telur produksi Negeri Mahu dijadikan stok untuk menopang program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Christina mengungkapkan, sejak awal program ketahanan pangan desa memang diarahkan untuk mendukung MBG. Namun, ia menegaskan kebutuhan masyarakat Negeri Mahu tetap menjadi prioritas.
“Program ini mendukung MBG, tetapi kebutuhan masyarakat Negeri Mahu tetap harus jadi perhatian utama,” ungkapnya.
Terkait rencana pengembangan, Christina mengatakan pemerintah negeri ingin menambah jumlah ayam petelur karena pemasaran sudah berjalan cukup baik. Namun, realisasinya masih bergantung pada besaran anggaran Dana Desa tahun ini.
Ia juga menyebut pada tahun 2026 program ketahanan pangan desa masih menjadi program wajib, sehingga usaha ayam petelur harus terus dilanjutkan. Selain itu, program baru pun harus tetap diarahkan pada produk yang mendukung MBG.
“Kami tetap berencana menambah ayam, tapi pelaksanaannya menyesuaikan kemampuan anggaran,” jelasnya.
Menurut Christina, dana yang tersedia juga akan diprioritaskan untuk kebutuhan utama seperti perlengkapan kandang dan pakan, mengingat biaya pakan cukup besar.
Selain menghasilkan telur sebagai produk utama, pemerintah negeri juga mulai memikirkan pengembangan produk turunan. Salah satu yang sedang direncanakan adalah pembuatan sambal ikan puri.
Program sambal ikan puri ini sudah mulai didukung melalui Dana Desa, bahkan penganggarannya telah masuk pada tahap pertama.
Ke depan, Christina menyebut pemerintah negeri juga akan mengupayakan satu produk tambahan lainnya. Pengelolaan produk-produk tersebut nantinya akan difokuskan melalui BUMDes, agar lebih terarah dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Saat ini, usaha ayam petelur di Negeri Mahu masih terus berjalan sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa yang dibiayai melalui Dana Desa.










