PERAN PEMUDA DI ERA DIGITALISASI DALAM SEMANGAT SUMPAH PEMUDA

  • Whatsapp

“PEMUDA MILENIAL DAN PERKEMBANGAN DIGITALISASI”.

AMBON, SNI.ID : Di era milenial, musuh kita bukan lagi penjajah dari kolonial Belanda, perjuangan kita bukan lagi merebut kemerdekaan Indonesia. Musuh kita saat ini berasal dari internal Bangsa Indonesia yang kini jelmaannya tak terlihat secara nyata. Seiring berkembangnya teknologi yang begitu pesat, semakin besar pula tantangan bagi pemuda untuk merawat semangat sumpah pemuda. Pemuda zaman dulu sibuk dengan gencatan senjata, namun pemuda zaman sekarang sibuk dengan social medianya.

Pemuda yang dulu berteriak merebut kemerdekaan, namun pemuda sekarang banyak yang sibuk berteriak mencari kesenangan. Pemuda yang dulu bersenjata bambu runcing melawan penjajah, namun pemuda sekarang banyak yang sibuk bersenjata gadget meraih eksistensi diri.

Pemuda merupakan aset besar suatu bangsa , asset besar yang dapat menjadi fondasi tatanan kehiduapan , pemuda memiliki berbagai potensi yang dapat di kembangkan secara optimal seiring rentang waktu yang dimiliki. Tokoh- tokoh besar pun mengabadikan peran besar pemuda dalam bingkai sastra yang indah, seperti ucapan Bung Karno, “ berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Jika kamu beri aku 1 pemuda, niscaya akan ku guncang dunia

Generasi milenial yang sangat erat dengan kemajuan teknologi hakikatnya mempunyai potensi besar menjadi penggerak revolusi Bangsa, namun kemudahan teknologi yang membuat generasi milenial cenderung dimanja sehingga semangatnya tergerus akibat kemudahan-kemudahan yang ada.

Semangat sumpah pemuda yang pernah menyatukan para pemuda di setiap daerahnya dapat dijadikan tauladan untuk pemuda milenial untuk terus menggali potensi di daerahnya sehingga dapat memberi kontribusi bagi kemajuan daerah masing-masing yang kemudian akan memberi pengaruh besar bagi Indonesia.

Interaksi sosial yang nyata berubah menjadi interaksi di dunia maya dikhawatirkan akan mendorong generasi milenial menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu tantangan bagi generasi milenial dari pandangan sosial budaya. Dari segi politik, generasi milenial mempunyai pengaruh besar dalam menentukan pemimpin Bangsa beberapa tahun ke depan. Generasi milenial yang selalu up to date mudah untuk mendapat akses informasi sehingga dapat membangun wawasan politik yang berkembang. Di sisi lain, informasi yang disampaikan di media perlu dicari kebenaran referensinya sehingga tidak mudah terpengaruh berita hoaks yang justru memprovokatori antara pihak satu dengan pihak yang lain. Maka generasi milenial perlu mengimbangi dengan literasi-literasi yang ada untuk dapat membangun perspektif dalam cara berfikirnya mengolah informasi di sosial media.

Baca Juga:  Kodam Pattimura Gelar Sosialisasi Sekaligus Launching Aplikasi Klassku

Dihadapkan dengan berbagai tantangan dan permasalahan baru bagi generasi milenial, mereka harus tetap menjaga semangat Sumpah Pemuda sebagai roh perjuangan yang pernah diikrarkan oleh pemuda-pemudi Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 yang mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, Bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

 

REFERENSI :

1.Kebijakan Bahasa: Kembali ke Semangat Sumpah Pemuda 1928

Bambang Suwarno1, Chelsea Larasati Yanwar2 1Pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Bengkulu 2Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Bengkulu Surel: wdsaraswati@gmail.com1, kittyprises@gmail.com2

Alamat web : file:///C:/Users/ACER/AppData/Local/Temp/10298-23313-3-PB.pdf

 

2. Kebangkitan Kaum Muda dan Media Baru

— Derajad S. Widhyharto

Alamat web : file:///C:/Users/ACER/AppData/Local/Temp/32030-75155-1-PB.pdf

3. Sulaiman Effendi “ Kiprah dan pemikiran politik took” bangsa “ april 2014, Jogjakarta

4. Nestiyanto Hadi “ belajar merawat Indonesia “ hal 2, tahun 2012, jawa barat

5. Swadesta Arya Wasesa “ soekarno dipuja, “dibunuh” dan di kenang “ tahun2014, Jogjakarta

6. Ratih Paradini “ otak tanpa kotak “tahun 2019, Jakarta barat.

 

Penulis : ERYANTI RAHALEB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *