SNI.ID, AMBON : Organisasi Kelompok Cipayung Maluku membantah tudingan adanya upaya pembungkaman gerakan mahasiswa melalui pertemuan dengan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku.
Dalam keterangan yang diterima di Ambon, Minggu (31/8/25), Cipayung menegaskan bahwa kehadiran mereka di Markas Polda Maluku pada Sabtu (30/8) bukan merupakan pertemuan politik, melainkan untuk menghadiri undangan doa bersama lintas agama yang diinisiasi Polda Maluku.
“Kehadiran kami semata-mata menghargai undangan resmi tersebut. Acara itu murni doa lintas agama untuk kebaikan bangsa, tidak ada agenda tersembunyi maupun instruksi politik untuk melemahkan gerakan mahasiswa,” kata perwakilan Cipayung.
Cipayung juga menolak tudingan bahwa mereka diarahkan untuk menghentikan aktivitas mahasiswa.
Mereka menegaskan komitmen perjuangan tetap konsisten, bahkan setelah menghadiri kegiatan di Polda, pihaknya langsung mengajukan surat pemberitahuan aksi demonstrasi yang dijadwalkan pada Senin (1/9).
“Kalau benar ada instruksi untuk mematikan gerakan, tentu kami tidak akan melanjutkan agenda aksi. Faktanya, usai dari pertemuan itu, kami justru mengurus izin aksi resmi di Polres,” ujarnya.
Selain itu, Cipayung juga meluruskan isu mengenai uang Rp250 ribu yang beredar di publik dan disebut sebagai bentuk “uang tutup mulut”. Menurut mereka, dana tersebut hanya diberikan sebagai biaya transportasi peserta kegiatan.
“Informasi itu sengaja dipelintir untuk menimbulkan fitnah. Perlu kami tegaskan bahwa uang tersebut bukanlah bentuk suap, melainkan sekadar biaya transportasi sebagaimana lazimnya kegiatan resmi,” tambahnya.
Melalui klarifikasi ini, Cipayung Maluku berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak benar dan tetap menjaga solidaritas dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. (*)










