Wakasek: Nilai TKA Tetap Jadi Pertimbangan Lanjut Studi Meski Tidak Wajib

  • Whatsapp
oplus_0

SNI.ID, SAPARUA : Pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di SMA Negeri 12 Maluku Tengah telah berlangsung sejak November 2025.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 12 Maluku Tengah, F. Pattinasarany, mengatakan hasil TKA yang diperoleh siswa menunjukkan capaian yang beragam. Sebagian siswa berhasil meraih nilai memuaskan, namun tidak sedikit pula yang hasilnya masih di bawah harapan.

Pattinasarany menilai, kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan pola belajar generasi siswa saat ini yang sangat dekat dengan penggunaan handphone (HP).

Menurutnya, ketergantungan pada perangkat digital menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan, khususnya dalam membangun konsistensi dan kemandirian belajar siswa.

“Kita ketahui bersama, generasi siswa sekarang sangat dekat dengan HP. Mereka lebih tertarik menggunakan HP dibandingkan belajar secara mandiri. Akibatnya, minat belajar menjadi rendah dan usaha belajar sering tidak konsisten,” kata Pattinasarany saat ditemui wartawan, diruang kerjanya, Selasa (27/1/26).

Ia menjelaskan, dalam keseharian proses belajar mengajar, masih ditemukan siswa yang kurang memanfaatkan waktu belajar di kelas secara optimal. Tidak sedikit siswa yang lebih memilih berada di luar kelas saat jam pelajaran berlangsung, lalu baru mulai fokus belajar ketika ujian sudah semakin dekat.

“Ketika ujian sudah dekat, baru muncul kepanikan. Ini karena persiapan yang tidak dilakukan sejak awal dan tidak matang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pattinasarany mengungkapkan bahwa penggunaan HP juga membentuk kebiasaan siswa untuk bergantung pada mesin pencari seperti Google dalam menyelesaikan soal. Kebiasaan tersebut membuat sebagian siswa kurang memahami konsep dasar materi pelajaran, karena lebih fokus mencari jawaban instan daripada proses berpikir.

Padahal, kata dia, guru di sekolah telah berupaya maksimal dalam memberikan pembelajaran dan pendampingan. Namun, hasil pembelajaran tidak akan optimal jika tidak diimbangi dengan kesadaran dan usaha dari siswa itu sendiri.

Baca Juga:  Kapolda Maluku Copot Kapolsek KPYS, Tiga Oknum Pelaku Penganiayaan Diproses Hukum

“Guru sudah berupaya memberikan yang terbaik, tetapi kalau siswa kurang berusaha dan hanya mengandalkan pencarian di Google, hasilnya tentu tidak maksimal,” ujar Pattinasarany.

Dalam pelaksanaan TKA, sekolah juga harus mengikuti ketentuan administratif yang berlaku. Salah satunya adalah kewajiban adanya izin tertulis dari orang tua atau wali siswa sebagai syarat keikutsertaan dalam ujian TKA.

Terkait kebijakan nasional, Pattinasarany menuturkan bahwa pemerintah memang menyatakan keikutsertaan dalam TKA tidak bersifat wajib. Namun, dalam praktiknya, nilai TKA memiliki peran penting karena digunakan sebagai salah satu syarat masuk perguruan tinggi maupun seleksi di sejumlah institusi tertentu, seperti kepolisian.

Kondisi tersebut, menurutnya, secara tidak langsung membuat siswa merasa perlu mengikuti TKA agar memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Kalau tidak ikut TKA, siswa akan kesulitan karena nilainya tidak bisa digunakan untuk beberapa jalur seleksi. Karena itu, sekolah menganjurkan semua siswa untuk ikut TKA, kecuali bagi siswa yang sakit atau memiliki kondisi khusus,” katanya.

Pelaksanaan TKA yang menggunakan sistem berbasis komputer juga menghadapi sejumlah kendala teknis. Salah satu kendala utama yang dihadapi SMA Negeri 12 Maluku Tengah adalah masalah jaringan internet. Meskipun pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya, termasuk koordinasi dan menyurat ke pihak terkait, gangguan jaringan masih kerap terjadi.

Pattinasarany menjelaskan, gangguan jaringan umumnya terjadi pada jam-jam tertentu, terutama saat jam sibuk akibat perbedaan waktu antara wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Hal ini berdampak pada keterlambatan pelaksanaan ujian dan mengganggu konsentrasi siswa.

“Ketika jam sibuk, jaringan sering tidak stabil. Ini menjadi tantangan tersendiri karena waktu ujian tetap berjalan meskipun jaringan bermasalah,” ujarnya.

Baca Juga:  Bangun Integritas, Kepala KPR Ambon Beri Pembekalan CPNS Kemenimipas di LPKA Ambon

Meski demikian, secara umum respons siswa dan orang tua terhadap pelaksanaan TKA dinilai cukup baik. Banyak orang tua dan siswa yang memiliki motivasi kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, beberapa siswa harus menghadapi kendala teknis saat ujian dan terpaksa mengulang, terutama karena soal bacaan yang panjang serta keterbatasan waktu akibat gangguan jaringan.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan, SMA Negeri 12 Maluku Tengah telah memberikan pendampingan dan pembinaan khusus bagi sebagian siswa, terutama pada mata pelajaran umum. Kendati demikian, Pattinasarany mengakui bahwa tidak semua siswa mendapatkan perlakuan khusus tersebut.

Guru, kata dia, terus mendorong siswa untuk mengembangkan kompetensi secara mandiri, tidak hanya bergantung pada soal yang diberikan di kelas, tetapi juga memahami konsep dan materi secara menyeluruh.

Selain itu, sekolah mulai membuka diri terhadap pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Beberapa guru telah merancang penggunaan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari inovasi pembelajaran. Namun, implementasinya masih terbatas dan baru diterapkan pada mata pelajaran tertentu, seperti informatika.

“Ke depan, kami berharap fasilitas dan kesiapan sekolah bisa ditingkatkan agar pembelajaran berbasis teknologi, termasuk AI, dapat diterapkan lebih merata,” ujarnya.

Adapun jumlah siswa SMA Negeri 12 Maluku Tengah yang mengikuti TKA tercatat sebanyak 64 siswa, seluruhnya merupakan siswa kelas XII.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *