SNI.ID, SAPARUA : Suasana haru dan penuh keakraban menyelimuti kawasan Gunung Panjang, Negeri Saparua, Senin (29/9/2025). Setelah puluhan tahun terpisah akibat konflik sosial tahun 1999, warga Buton Gunung Panjang yang dahulu merupakan bagian dari RT 19 Negeri Saparua akhirnya dapat kembali menapakkan kaki di tanah leluhur mereka.
Rombongan warga yang datang dari berbagai daerah itu berkumpul untuk melihat peninggalan leluhur yang selama ini mereka tinggalkan. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Pemerintah Negeri Saparua, Raja, serta aparat keamanan, yakni Bhabinkamtibmas dan Babinsa Negeri Saparua.
Koordinator warga Buton Gunung Panjang RT 19 Negeri Saparua, Usman Jamsah, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan.
Menurutnya, kedatangan mereka bukan semata untuk berziarah, tetapi juga karena kerinduan dan kecintaan terhadap tanah kelahiran yang lama mereka tinggalkan.
“Kehadiran kami di sini bukan hanya untuk melihat peninggalan leluhur, melainkan juga karena kami pernah menjadi bagian dari masyarakat Negeri Saparua. Konflik sosial memisahkan kami, dan hari ini kami diterima kembali dengan hangat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Usman menjelaskan bahwa warga yang hadir berasal dari berbagai tempat, antara lain Masohi, Aira, Tanjung, Kairatu, dan Olas. Mereka merupakan generasi kedelapan dari leluhur yang dahulu bermukim di Gunung Panjang. Meski perjalanan dilakukan secara swadaya, semangat kebersamaan membuat acara tersebut berlangsung penuh kekeluargaan.
“Anggaran perjalanan kami ditanggung masing-masing keluarga,” tambahnya.
Selain mengenang masa lalu, warga berharap agar pemerintah dapat membantu menjaga dan merawat lokasi peninggalan leluhur mereka.
“Harapan kami, baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah negeri, dapat memperhatikan lokasi ini. Kami ingin ada pagar dan perawatan agar nantinya anak cucu kami bisa datang berziarah ke Saparua,” tutur Usman.
Sementara itu, Raja Negeri Saparua, Titaley, mengaku bangga dan bersyukur atas kembalinya warga Buton Gunung Panjang.
Menurutnya, meski lama terpisah akibat konflik, ikatan emosional dan rasa cinta terhadap negeri masih terjaga dengan kuat.
“Kami merasa bangga karena mereka masih memiliki kerinduan yang besar terhadap Negeri Saparua. Kehadiran mereka adalah bukti bahwa persaudaraan tidak bisa hilang hanya karena konflik,” kata Titaley.
Lebih jauh, Titaley menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya menindaklanjuti harapan warga dengan melakukan komunikasi bersama pemerintah daerah.
“Apa yang menjadi kerinduan warga Buton Gunung Panjang, kami akan sampaikan kepada pihak terkait. Semoga nantinya ada perhatian lebih agar lokasi ini bisa dikelola dengan baik,” pungkasnya. (*)










