SNI.ID, SAPARUA : Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku menggelar Festival Benteng Duurstede di kompleks Benteng Duurstede, Rabu (10/12). Festival bertema “Cagar Budaya dan Ruang Ekspresi: Merawat Tradisi, Menjaga Budaya” itu menghadirkan beragam pertunjukan seni, pameran budaya, serta ruang edukasi sejarah yang menonjolkan kekayaan tradisi kepulauan Lease.
Digelar di salah satu situs bersejarah terpenting di Kepulauan Lease, festival ini menghadirkan pertunjukan seni, pameran budaya, dan ruang kreatif yang menonjolkan identitas lokal. Festival ini juga tak hanya menjadi panggung seni, tetapi juga sarana mengingat kembali sejarah perjuangan Kapitan Pattimura dan para pahlawan Maluku pada 1817.
Kepala BPK Wilayah XX Maluku, Dody Wiranto, menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan amanat UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ia menyebut festival tersebut bertujuan memperkuat pemanfaatan Benteng Duurstede sebagai cagar budaya nasional sekaligus ruang ekspresi dan studi kebudayaan.
“Keberadaan benteng ini adalah bukti sejarah yang harus dirawat bersama dan dimanfaatkan sebagai ruang publik belajar serta ruang ekspresi masyarakat,” ujarnya.
Festival ini merupakan kolaborasi antara BPK Wilayah XX dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, melibatkan sanggar-sanggar budaya dari Saparua, Haruku, dan Nusalaut. Kegiatan didukung melalui dana hibah PPK Wilayah 20 Tahun Anggaran 2025.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival. Ia menyebut Benteng Duurstede sebagai ruang sejarah penting yang kini kembali hidup dan dimaknai sebagai pusat pembinaan seni dan promosi budaya.
“Festival ini menjadi kesempatan menampilkan kekayaan budaya masyarakat Saparua sekaligus memperkuat identitas anak-anak negeri terhadap tradisi leluhur,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pelestarian budaya sebagai kekuatan pemersatu dan fondasi pembangunan daerah.
Sementara itu, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Restu Gunawan, turut memberikan dukungannya. Ia mengajak masyarakat dan pelaku seni untuk mengaktivasi Benteng Duurstede melalui pameran seni rupa, pertunjukan teater, dan aktivitas kreatif lainnya.
“Terima kasih kepada masyarakat Lease yang menghadirkan 15 sanggar. Ini prestasi besar bagi pengembangan seni generasi muda,” ujarnya.
Festival Benteng Duurstede diharapkan menjadi agenda budaya berkelanjutan yang menghubungkan sejarah masa lalu dengan kreativitas masa kini, sekaligus memperkuat posisi Saparua sebagai destinasi budaya dan pariwisata di Maluku Tengah.
Sementara itu, Festival Benteng Duurstede tahun ini turut menampilkan kreasi tari dan seni dari 13 sanggar budaya di Pulau Saparua. Beragam penampilan tersebut menjadi penegasan bahwa tradisi lokal tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.










