Purwanto : Hasil Monitoring CTC Temukan Penurunan Terumbu Karang di Sejumlah Lokasi Kepulauan Lease

SNI.ID, SAPARUA TIMUR – Coral Triangle Center (CTC) menemukan adanya penurunan kondisi terumbu karang di sejumlah lokasi di Kepulauan Lease, Maluku.

Temuan tersebut diperoleh dari monitoring yang dilakukan CTC dan menjadi salah satu bahan dalam proses evaluasi desain zonasi Kawasan Konservasi Kepulauan Lease.

Manager CTC Maluku, Purwanto, mengatakan hasil penelitian yang didiseminasikan belum dapat menyimpulkan apakah zonasi kawasan konservasi yang ada saat ini masih sesuai atau perlu diubah.

Menurut dia, data hasil penelitian akan terlebih dahulu dibandingkan dengan data sebelumnya dan digabungkan dengan informasi mengenai pemanfaatan kawasan yang diperoleh dari masyarakat.

“Data ini sangat penting. Karena setelah kombinasi antara data ilmiah dan data pemanfaatan dari masyarakat, kita mendapatkan desain atau rancangan zonasi kawasan konservasi,” kata Purwanto kepada media ini saat di konfirmasi, Senin (5/10/26).

Namun, rancangan tersebut masih harus melalui proses konsultasi dengan masyarakat, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat sebelum ditetapkan menjadi keputusan final.

Temuan kondisi terumbu karang

Purwanto mengatakan monitoring yang dilakukan sekitar dua pekan sebelum kegiatan diseminasi menunjukkan adanya sejumlah lokasi yang mengalami penurunan kondisi terumbu karang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Memang ada beberapa lokasi yang dua atau empat tahun yang lalu masih cukup bagus, tapi sekarang sudah menurun,” ujarnya.

Selain penurunan kondisi terumbu karang, CTC juga menemukan sejumlah indikasi ancaman terhadap ekosistem laut.

Salah satunya keberadaan crown-of-thorns starfish atau bintang laut pemakan karang yang ditemukan dalam jumlah cukup banyak di beberapa lokasi di Haruku, terutama bagian barat Pulau Haruku.

Tim juga menemukan sejumlah indikasi kerusakan akibat aktivitas manusia, seperti bekas bom, jaring, dan alat tangkap.

Baca Juga:  SD Negeri 275 Maluku Tengah Laksanakan Ujian Sekolah Secara Daring

“Bekas-bekas bom, bekas gelombang, jaring, pancing, itu kita identifikasi di beberapa tempat,” kata Purwanto.

Selain itu, ditemukan pula tanda-tanda adanya tekanan dari daratan ke laut, termasuk indikasi polusi atau masuknya nutrien.

CTC juga mulai mengidentifikasi sejumlah penyakit karang serta keberadaan cyanobacteria dan spons yang dapat mematikan karang atau killer coral sponge.

Menurut Purwanto, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, pengelola kawasan, maupun masyarakat.

Ada kawasan yang perlu dilindungi, ada yang perlu direhabilitasi

Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan adanya sejumlah lokasi yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati terumbu karang dan ikan yang tinggi.

Wilayah tersebut dinilai perlu mendapat perhatian khusus untuk dipertimbangkan sebagai zona perlindungan.

“Beberapa lokasi mempunyai biodiversitas terumbu karang yang tinggi, ikan yang tinggi. Itu daerah-daerah yang perlu kita perhatikan untuk dijadikan sebagai zona yang disisihkan atau dilindungi,” ujarnya.

Menurut dia, kawasan dengan kondisi ekologis yang baik dapat berfungsi sebagai sumber bagi kawasan lain, termasuk sebagai sumber ikan maupun sumber reproduksi ekosistem.

Sebaliknya, sejumlah wilayah yang kondisinya sudah mengalami kerusakan juga perlu mendapat perhatian melalui upaya rehabilitasi.

“Rusaknya cukup memprihatinkan. Nah, daerah ini juga perlu kita perhatikan untuk upaya rehabilitasi, perbaikannya bagaimana,” katanya.

Libatkan masyarakat dalam penentuan zonasi

Purwanto menegaskan, evaluasi zonasi tidak akan hanya didasarkan pada hasil penelitian ilmiah.

CTC akan menggabungkan data penelitian dengan data yang dimiliki pemerintah, informasi pemanfaatan masyarakat, serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

Termasuk di dalamnya para raja negeri di Kepulauan Lease, kelompok masyarakat, dan kelompok nelayan.

Menurut Purwanto, pendekatan tersebut penting agar kebijakan konservasi tidak mengabaikan kepentingan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Baca Juga:  KM Sarana Perkasa Alami Kebakaran di Laut Banda, Tim SAR Evakuasi Semua ABK Selamat

“Justru dengan mengumpulkan dari semua stakeholder, termasuk semua raja dari seluruh Kepulauan Lease, kelompok masyarakat, kelompok nelayan, itu yang memastikan bahwa upaya perlindungan itu tidak merugikan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan tujuan akhirnya adalah mencari keseimbangan antara perlindungan ekosistem dengan pemanfaatan sumber daya laut untuk perikanan, pariwisata, dan kepentingan masyarakat lainnya. Proses evaluasi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan hingga satu tahun ke depan.

Purwanto berharap data ilmiah yang telah dikumpulkan dapat dimanfaatkan oleh pengelola kawasan dan dipadukan dengan pengetahuan serta masukan masyarakat.

“Harapannya bahwa data-data yang ada, data ilmiah yang ada, bisa dimanfaatkan oleh pengelola, kemudian digabungkan dengan persepsi atau masukan pendapat dari masyarakat sehingga kawasan konservasi Kepulauan Lease ini dapat lebih optimal melindungi sumber daya yang ada, tetapi tetap menjaga, memaksimalkan pemanfaatan oleh masyarakat,” katanya.

Ia juga menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, kelompok masyarakat, dan organisasi nonpemerintah yang selama ini telah berjalan perlu dipertahankan dan diperkuat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *