SNI.ID, SAPARUA TIMUR – Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa, meresmikan Catappa Cafe yang berlokasi di depan kawasan wisata mangrove Negeri Administratif Mahu, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (15/10/2026).
Peresmian Catappa Cafe ditandai dengan pengguntingan pita oleh Camat Saparua Timur, disaksikan pemerintah negeri, Kapolse Saparua, Kasubsektor Saparua Timur, Danramil 1503/Saparua, para raja-raja se Saparua dan Saparua Timur, serta tamu undagannya lainnya dan masyarakat setempat.
Kehadiran Catappa Cafe menjadi bagian dari upaya Pemerintah Negeri Mahu dalam mengembangkan potensi wisata mangrove sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Pemerintahan Negeri Mahu, Christina M. Lawalata, dalam sambutannya mengatakan, Catappa Cafe dibangun sebagai pelengkap sarana wisata yang dikembangkan pemerintah negeri berdasarkan visi dan misi untuk mengoptimalkan potensi lokal, khususnya kawasan mangrove atau hutan bakau.
Menurutnya, pengembangan pariwisata di Negeri Mahu dilakukan secara bertahap. Pada 2023, pemerintah negeri membangun restoran, dilanjutkan pembangunan kafe pada 2024, kemudian jembatan mangrove sepanjang 80 meter pada 2025 yang kini telah difungsikan.
Sementara pada 2026, pemerintah negeri turut membuka lapak untuk mendukung pengembangan UMKM.
“Tujuan pengembangan potensi ini adalah mengoptimalkan kekayaan alam yang merupakan anugerah Tuhan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Christina berharap, keberadaan Catappa Cafe dapat membuka lapangan kerja bagi generasi muda serta memberikan kesempatan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk mengembangkan usaha kecil.
Selain wisata mangrove, pemerintah negeri juga berencana mengembangkan wisata kuliner dengan menghadirkan kembali aneka jajanan tradisional berbahan pangan lokal.
Catappa Cafe nantinya diharapkan tidak hanya menyediakan kopi, tetapi juga menawarkan jajanan tradisional yang bervariasi setiap hari sehingga produk lokal semakin dikenal dan memberikan peluang usaha bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, pengembangan usaha tersebut juga diharapkan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) bagi Negeri Mahu, mengingat keterbatasan sumber pendapatan yang selama ini menjadi tantangan dalam mendukung pembangunan negeri.
Meski anggaran dana desa semakin terbatas, pemerintah negeri tetap berupaya mengembangkan fasilitas wisata secara bertahap. Pada 2026, direncanakan pula penambahan jembatan mangrove sepanjang 70 meter untuk memperluas kawasan wisata.
Keberadaan penginapan Mahu Lodge di sekitar lokasi juga dinilai menjadi peluang untuk meningkatkan aktivitas ekonomi. Para tamu yang menginap diharapkan dapat mengunjungi Catappa Cafe, menikmati sajian lokal, sekaligus membeli produk UMKM masyarakat.
Christina menambahkan, seluruh fasilitas yang dibangun merupakan aset milik Negeri Mahu yang bersumber dari dana desa. Pengelolaan usaha akan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negeri (BUMNeg) Kalapuri Jaya agar berjalan secara profesional dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak kecamatan, majelis jemaat, Badan Pemerintahan Negeri (BPN), pengelola BUMNeg, serta masyarakat yang telah mendukung pembangunan tersebut.
Menurutnya, pembangunan fasilitas wisata ini turut melibatkan tenaga kerja dan kreativitas masyarakat setempat. Pemerintah negeri berharap berbagai usaha yang dikembangkan dapat membuka lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan warga.
“Jika orang lain bisa, mengapa kita tidak bisa? Karena itu, kita tidak boleh pesimis, tetapi harus tetap optimistis. Jika kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah mengetahui hasilnya,” pungkasnya.
Camat Berharap Jadi Contoh bagi Negeri Lain
Sementara itu, Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa, mengapresiasi langkah Pemerintah Negeri Mahu dalam mengembangkan potensi wisata melalui pemanfaatan dana desa.
Ia berharap, pembangunan Catappa Cafe dapat menjadi contoh bagi negeri-negeri lain di Kecamatan Saparua Timur dalam mengembangkan potensi lokal yang dimiliki.
Menurut Halid, fasilitas tersebut tidak hanya mendukung kegiatan pariwisata, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat, seperti sosialisasi, pertemuan, dan kegiatan lainnya.
Ia menilai, pengembangan wisata mangrove di Negeri Mahu merupakan langkah awal yang dapat menjadi inspirasi bagi sepuluh negeri di Kecamatan Saparua Timur untuk mengembangkan potensi masing-masing.
“Jujur saja, ini merupakan langkah yang cerdas. Dengan memanfaatkan dana desa, pemerintah negeri mampu membangun sesuatu yang nyata untuk mendukung pengembangan wisata mangrove yang sudah menjadi salah satu kebanggaan Negeri Mahu,” ujarnya.
Halid juga mengingatkan pentingnya pengelolaan aset dan usaha melalui BUMNeg secara profesional, transparan, dan akuntabel agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia mengatakan, keterbatasan dana desa di tengah berbagai program pembangunan menuntut setiap negeri untuk lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru.
Karena itu, ia berharap Catappa Cafe dapat menjadi sumber berkat bagi masyarakat, menggerakkan perekonomian warga, membuka lapangan kerja, serta memberikan kontribusi terhadap PAD.
Halid juga menyampaikan harapannya agar pada 2027 terdapat pengembangan program Kampung Nelayan di dua negeri di Pulau Saparua, yakni Negeri Kulur di Kecamatan Saparua dan Negeri Noloth di Kecamatan Saparua Timur.
Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat dari berbagai negeri di sekitarnya sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.
Di akhir sambutannya, Halid berpesan kepada pengurus BUMNeg Kalapuri Jaya agar mengelola Catappa Cafe dengan jujur dan profesional, menjaga kebersihan, memelihara kawasan mangrove, serta memberikan pelayanan terbaik kepada pengunjung.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas tersebut agar dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan Negeri Mahu.
“Keberhasilan usaha ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah negeri atau pengurus BUMNeg, melainkan tanggung jawab kita bersama,” tutupnya. (*)









