SNI.ID, SAPARUA : Di sebuah sudut Maluku Tengah, SD Negeri 260 berdiri bukan sekadar sebagai tempat belajar membaca dan berhitung. Sekolah ini menjadi ruang harapan bagi anak-anak yang datang dengan langkah kecil namun tekad besar, termasuk Ipan Tamaela dan adiknya Bunga, dua bersaudara yang tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Kepala SD Negeri 260 Maluku Tengah, Herry Latuhamallo, tidak menampik bahwa perjalanan pemenuhan hak pendidikan bagi siswa kurang mampu kerap diwarnai berbagai kendala. Salah satunya terkait Program Indonesia Pintar (PIP) yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami persoalan teknis, terutama dalam proses input data penerima.
“Beberapa tahun ke belakang memang ada sedikit masalah, baik dalam penginputan data maupun dalam memastikan anak-anak mendapatkan haknya,” ujar Herry, kepada Media, Sabtu (31/1/26).
Namun, pada tahun 2025, perlahan keadaan mulai membaik. Sebagian besar siswa yang sebelumnya terkendala kini telah menerima dana PIP. Bagi pihak sekolah, pencairan dana tersebut bukan sekadar angka, melainkan bentuk kehadiran negara bagi anak-anak yang berjuang mengenyam pendidikan di tengah keterbatasan.
“Kami sangat bersyukur karena sebagian anak-anak sudah menerima PIP. Itu adalah hak mereka dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan hak itu sampai,” kata Herry.
Nama keluarga Tamaela, yang sempat luput pada tahapan awal, akhirnya tercover pada pendataan tahap akhir tahun 2025. Dana PIP bagi anak-anak keluarga ini pun telah dicairkan pada Januari 2026, sebagai upaya menjawab kebutuhan dasar pendidikan mereka.
Sejauh ini, perhatian pihak sekolah terhadap keluarga Tamaela bukanlah hal yang baru. Sejak tahun-tahun sebelumnya, guru-guru SD Negeri 260 telah meninjau langsung kondisi tempat tinggal siswa. Beberapa di antaranya bahkan mendatangi rumah keluarga tersebut dan menyaksikan secara langsung realitas kehidupan yang jauh dari kata layak.
“Kami sangat prihatin. Karena itulah keluarga Tamaela kami prioritaskan. Kondisi mereka memang sangat memprihatinkan,” ujar Herry.
Selain PIP, sekolah juga mengupayakan bantuan melalui Dana BOS, khususnya untuk siswa kurang mampu. Namun Herry mengakui, bantuan semacam itu sering kali bersifat sementara dan tidak selalu berkelanjutan.
“Kadang ada bantuan, tapi setelah satu atau dua bulan tidak ada lagi. Untuk tahun anggaran 2026, kami akan melihat kembali dan mempertanggungjawabkan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan anak-anak ini,” tuturnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, muncul pula isu yang menyebutkan bahwa ketidakhadiran Ipan di sekolah disebabkan oleh iuran pendidikan. Isu tersebut dengan tegas dibantah oleh pihak sekolah.
“Kami tidak pernah melakukan pungutan dalam bentuk apa pun. Tidak ada iuran sekolah, tidak ada pungutan sepeser pun,” tegas Herry.
Ia menjelaskan, absennya Ipan dan Bunga selama beberapa hari hanya diketahui oleh wali kelas dan lebih berkaitan dengan kondisi keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan pendidikan sehari-hari, bukan karena faktor biaya sekolah.
Bagi pihak sekolah, memastikan kehadiran dan keberlangsungan pendidikan siswa seperti Ipan dan Bunga menjadi tanggung jawab moral. Pendekatan personal pun dilakukan oleh para guru, yang membangun kedekatan emosional dengan siswa.
“Kreativitas dan pendekatan diri Ipan dengan guru-guru terlihat sangat baik. Itu yang kami jaga,” ujarnya.
Tak hanya dari sekolah, dukungan juga datang dari berbagai pihak. Gereja setempat melalui program sosialnya turut membantu keluarga Tamaela. Simpati juga mengalir dari teman-teman sekolah Ipan yang memberikan sepatu bekas, seragam, tas, dan pakaian layak pakai.
Di sisi lain, SD Negeri 260 Maluku Tengah juga terus berbenah dalam aspek akademik. Pada tahun ajaran 2025–2026, sekolah ini memiliki 44 siswa yang mengikuti ujian dan tes kompetensi. Pelaksanaan ujian dilakukan berbasis komputer dengan menggunakan tablet dan Chromebook, meskipun masih dihadapkan pada kendala jaringan internet.
“Kami sering menggunakan pulsa data untuk membantu proses ujian. Puji Tuhan, semuanya bisa berjalan lancar,” ungkap Herry.
Untuk memastikan kesiapan siswa, pihak sekolah menyiapkan guru khusus yang memberikan pembekalan melalui kegiatan privat. Upaya tersebut dilakukan agar setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih hasil terbaik.
Herry berharap seluruh siswa dapat mengikuti ujian dalam kondisi sehat dan penuh kesiapan.
“Semoga anak-anak tetap semangat, orang tua juga mendukung, dan hasilnya nanti menjadi yang terbaik,” katanya.
Sementara itu, Ipan Tamaela (10) dengan polos menceritakan kesehariannya. Ia mengaku selalu berangkat ke sekolah dan belajar seperti biasa. Setiap pagi, Ipan dan adiknya Bunga yang masih duduk di kelas I kerap berjalan kaki menuju sekolah, menapaki hari demi hari dengan semangat sederhana namun tulus.
Di balik langkah kecil mereka, tersimpan cerita besar tentang ketekunan, kepedulian, dan harapan—bahwa di tengah keterbatasan, pendidikan tetap menjadi jalan bagi masa depan yang lebih baik. (*)










