SNI.ID, AMBON — Ketua Maluku Youth Creative Pro, David Rampisela, mendorong pengembangan komunitas gim papan board game di Maluku dengan melibatkan generasi muda serta mengangkat kekayaan budaya dan sejarah lokal sebagai inspirasi permainan.
David mengatakan, tren gim papan yang berkembang di Jakarta mulai menarik perhatian masyarakat di berbagai daerah. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi anak muda Maluku untuk ikut terlibat dalam industri kreatif, baik sebagai pemain maupun kreator permainan.
“Tren yang berkembang di Jakarta biasanya cukup cepat diadaptasi di daerah. Karena itu, kita perlu memanfaatkan momentum ini untuk mendorong anak-anak muda mengenal dan mengembangkan board game,” ujar David kepada media, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, keterlibatan generasi muda menjadi strategi penting dalam membangun komunitas gim papan. Hal itu terlihat dari peserta kegiatan pengembangan komunitas board game di Ambon yang didominasi pelajar dan mahasiswa.
David menilai, permainan yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas minat masyarakat terhadap gim papan. Dengan pendekatan tersebut, komunitas diharapkan dapat tumbuh sekaligus membuka ruang bagi anak muda untuk mempelajari proses pengembangan permainan.
Selain mengikuti tren permainan, David menilai Maluku memiliki potensi besar untuk mengembangkan board game dengan identitas lokal. Sejarah perdagangan rempah-rempah, kebudayaan, serta kisah tokoh perjuangan Maluku dapat diadaptasi menjadi konsep permainan yang menarik.
Ia mencontohkan kisah perjalanan rempah-rempah maupun tokoh sejarah seperti Martha Christina Tiahahu dan Pattimura yang dapat dikemas dalam bentuk permainan kartu atau mekanisme permainan sederhana.
“Cerita lokal seperti perjalanan rempah-rempah, budaya, dan tokoh perjuangan Maluku bisa diterjemahkan ke dalam bentuk permainan. Jadi, board game bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga bisa mengenalkan sejarah dan budaya kepada generasi muda,” katanya.
David menambahkan, pengembangan permainan berbasis budaya lokal dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan Maluku melalui pendekatan yang lebih interaktif. Dengan demikian, nilai sejarah dan budaya tidak hanya disampaikan melalui buku atau pembelajaran formal, tetapi juga melalui pengalaman bermain.
Namun, menurut David, tantangan terbesar bukan hanya menyelenggarakan kegiatan pengenalan board game, melainkan memastikan komunitas yang terbentuk dapat terus berkembang setelah kegiatan berakhir.
Ia berharap komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak muda yang memiliki minat dan bakat dalam merancang permainan untuk mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan.
David juga melihat industri board game sebagai peluang ekonomi kreatif yang dapat membuka jalan bagi lahirnya profesi baru. Kreator tidak hanya dapat menghasilkan permainan untuk dimainkan, tetapi juga mengembangkan produk yang memiliki nilai jual.
Board game bisa menjadi lebih dari sekadar permainan. Anak-anak muda yang memiliki bakat dalam pengembangan gim bisa menjadikan kreativitasnya sebagai sumber penghidupan, seperti musisi yang menghasilkan karya musik. Permainan yang mereka ciptakan juga bisa dikembangkan dan dijual,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pengembangan komunitas board game di Maluku dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem yang menghubungkan pemain, kreator, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan dukungan berbagai pihak, permainan berbasis budaya lokal diharapkan mampu berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki daya saing dan menjangkau pasar lebih luas.









